Ditulis oleh DEE | 04 Juni 2026
Chiming watches merupakan salah satu komplikasi paling prestisius dalam dunia horologi karena mampu menghasilkan suara mekanis layaknya lonceng mini di pergelangan tangan. Dari minute repeater hingga grande sonnerie, jam tangan ini menggabungkan mikro-mekanika, akustik, dan craftsmanship tingkat tinggi. Bahkan, ini hanya bisa dibuat oleh sedikit watchmaker di dunia. Melalui artikel ini, Anda akan diajak mengenal cara kerja chiming watches hingga pentingnya sound engineering dalam menentukan kualitas suara sebuah jam tangan mewah.
Dunia horologi tidak hanya berbicara soal akurasi waktu atau desain mewah. Pada level tertinggi, sebuah jam tangan dapat berubah menjadi instrumen musik mekanis yang hidup di pergelangan tangan. Inilah yang membuat chiming watches menjadi salah satu komplikasi paling dihormati dalam industri jam tangan mewah.
Berbeda dari jam tangan biasa, chiming watches mampu menghasilkan suara mekanis melalui sistem gong dan hammer miniatur di dalam movement. Ketika diaktifkan, jam akan “menyanyikan” waktu dengan pola bunyi tertentu. Teknologi ini berasal dari era sebelum listrik ditemukan, ketika orang membutuhkan cara untuk mengetahui waktu dalam kondisi gelap tanpa melihat dial.
Kini, chiming watches tidak lagi sekadar alat bantu membaca waktu. Banyak maison horologi, seperti Patek Philippe, Vacheron Constantin, Jaeger-LeCoultre, hingga Audemars Piguet menjadikannya simbol tertinggi kemampuan watchmaking mereka. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan acoustic engineering membuat kualitas suara pada chiming watches semakin kompleks dan emosional.
Chiming watches adalah jam tangan mekanis yang dapat menghasilkan suara otomatis maupun manual untuk menandakan waktu. Sistem ini bekerja menggunakan kombinasi:
Ketika mekanisme aktif, hammer akan memukul gong dan menghasilkan nada tertentu. Pola bunyi tersebut merepresentasikan jam, kuartal, atau menit.
Dalam dunia horologi, komplikasi chiming terbagi ke beberapa kategori, seperti:
Namun, minute repeater dan grande sonnerie menjadi dua bentuk paling prestisius karena tingkat kerumitan mekanismenya sangat tinggi.
Menurut Fondation de la Haute Horlogerie (FHH), complication berbasis suara termasuk salah satu komplikasi paling sulit untuk dirakit karena membutuhkan sinkronisasi sempurna antara mekanika dan resonansi akustik.
Minute repeater merupakan jenis chiming watch paling terkenal. Pengguna dapat mengaktifkan mekanisme ini melalui slider atau pusher pada case.
Setelah ditekan, jam akan membunyikan:
Sebagai contoh:
Pukul 10:28, jam akan berbunyi:
Keindahan minute repeater terletak pada presisi ritme dan kejernihan suara. Semakin jernih resonansinya, semakin tinggi kualitas jam tersebut. Banyak kolektor menganggap complication ini sebagai “puncak seni mekanik” karena watchmaker harus menyetel suara secara manual setelah seluruh movement selesai dirakit.
Jika minute repeater aktif sesuai permintaan pengguna, grande sonnerie bekerja otomatis sepanjang hari. Jam ini akan membunyikan:
Karena bekerja terus-menerus, grande sonnerie membutuhkan:
Inilah alasan grande sonnerie sering dianggap sebagai komplikasi paling sulit dalam haute horlogerie. Beberapa manufaktur bahkan hanya memproduksi beberapa unit grande sonnerie setiap tahun karena proses assembly dan tuning dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Contoh terkenal dalam kategori ini, antara lain:
Membuat chiming watch bukan hanya soal memasang hammer dan gong. Watchmaker harus memastikan ratusan komponen bekerja sempurna dalam ruang sangat kecil. Pada complication minute repeater modern saja, jumlah komponen tambahan bisa mencapai lebih dari 100 bagian mikro. Seluruhnya harus bekerja presisi tanpa mengganggu akurasi movement utama.
Kesulitan terbesar muncul karena watchmaker harus menggabungkan tiga disiplin ini sekaligus:
Selain itu, toleransi kesalahan pada complication ini sangat kecil. Sedikit saja kesalahan posisi hammer atau bentuk gong, suara bisa terdengar mati, pecah, atau terlalu pendek. Tidak heran jika banyak manufaktur hanya mempercayakan complication ini kepada master watchmaker senior dengan pengalaman puluhan tahun.
Chiming watches membutuhkan tenaga besar untuk menggerakkan hammer. Karena itu, movement harus memiliki:
Pada grande sonnerie, tantangan ini meningkat drastis karena jam harus berbunyi otomatis sepanjang hari tanpa kehilangan presisi waktu. Beberapa manufaktur modern bahkan mengembangkan barrel terpisah khusus untuk mekanisme chiming agar performa movement utama tetap stabil.
Salah satu fakta paling menarik adalah proses tuning suara masih dilakukan secara manual hingga sekarang. Dalam proses ini, watchmaker akan:
Proses ini mirip seperti menyetem alat musik miniatur. Karena itu, dua jam dengan model identik pun bisa memiliki karakter suara berbeda. Inilah yang membuat banyak kolektor melihat chiming watches sebagai karya seni mekanik, bukan sekadar instrumen waktu.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak manufaktur mulai mengembangkan pendekatan sound engineering yang jauh lebih ilmiah. Fokusnya bukan hanya membuat jam berbunyi, tetapi menciptakan kualitas suara yang memiliki kriteria berikut:
Beberapa brand bahkan bekerja sama dengan ahli akustik dan insinyur audio untuk mengembangkan chiming system generasi baru.
Material case memainkan peran besar dalam kualitas resonansi, misalnya:
Karena itu, banyak chiming watches modern menggunakan kombinasi material khusus demi mendapatkan karakter suara tertentu.
Produsen jam mewah kini juga merancang beberapa inovasi berikut:
Tujuannya, agar suara dapat keluar lebih jelas meski ukuran case tetap wearable.
Salah satu inovasi terkenal datang dari Audemars Piguet melalui teknologi Supersonnerie yang mengadopsi prinsip resonansi alat musik. Sementara Jaeger-LeCoultre mengembangkan crystal gong yang langsung terhubung ke kaca safir untuk meningkatkan volume suara. Pendekatan ini menunjukkan bahwa chiming watches modern kini berada di persimpangan antara horologi tradisional dan acoustic engineering tingkat tinggi.
Ajang Watches and Wonders Geneva 2026 menunjukkan bahwa komplikasi berbasis suara masih menjadi salah satu simbol tertinggi dalam haute horlogerie. Tahun ini, beberapa manufaktur menghadirkan pendekatan baru terhadap minute repeater hingga grande sonnerie. Hal ini karena Watchmaker fokus pada kualitas akustik, efisiensi energi, dan arsitektur movement yang semakin ekstrem.
Model ini menjadi salah satu rilisan paling teknis di Watches and Wonders 2026 karena menggabungkan dua komplikasi yang sangat sulit dipadukan, yaitu resonance dan minute repeater.
Armin Strom menggunakan empat hammer dan empat gong dengan sistem Westminster chime, bukan konfigurasi standar dua hammer seperti minute repeater pada umumnya. Yang membuatnya semakin menarik, pengguna dapat mengaktifkan mode “12:59”, yaitu urutan dentang terpanjang yang mungkin dihasilkan sebuah minute repeater.
Case titanium berdiameter 42 mm juga dipilih bukan sekadar demi bobot ringan, tetapi untuk meningkatkan resonansi suara. Banyak pengamat horologi menyebut model ini sebagai salah satu independent chiming watches paling impresif tahun ini.
Chopard kembali menunjukkan kemampuannya dalam complication akustik melalui L.U.C Grand Strike. Jam ini menggabungkan beberapa inovasi sekaligus, seperti:
Salah satu inovasi terbesarnya terletak pada penggunaan sapphire crystal gong yang langsung terhubung ke kaca safir jam. Teknologi ini membuat suara terdengar lebih keras, jernih, dan panjang dibanding gong konvensional.
Movement-nya terdiri dari ratusan komponen dan membutuhkan ribuan jam riset untuk menyempurnakan kualitas akustik. Chopard bahkan bekerja sama dengan ahli acoustic engineering untuk mendapatkan karakter nada yang lebih harmonis.
Jaeger-LeCoultre menghadirkan pendekatan futuristis terhadap haute horlogerie melalui Master Hybris Inventiva Gyrotourbillon à Stratosphère. Walau fokus utamanya ada pada sistem gyrotourbillon multi-axis, model ini juga membawa pengembangan terbaru dari ultra-thin minute repeater milik Jaeger-LeCoultre. Manufacture tersebut dikenal sebagai salah satu pionir dalam riset crystal gong dan sound transmission pada chiming watches modern.
Jam ini memperlihatkan bagaimana complication berbasis suara kini berkembang jauh melampaui konsep tradisional. Tidak hanya soal dentang, tetapi juga tentang pengendalian resonansi, distribusi frekuensi, dan pengalaman audio yang lebih emosional di pergelangan tangan.
Chiming watches membuktikan bahwa jam tangan mekanis masih mampu menghadirkan emosi yang tidak bisa digantikan teknologi digital. Dentang kecil dari minute repeater atau grande sonnerie bukan sekadar suara, melainkan hasil perpaduan craftsmanship, teknik akustik, dan warisan horologi selama ratusan tahun.
Tidak heran jika complication ini tetap menjadi simbol tertinggi dalam dunia haute horlogerie. Selain sangat rumit diproduksi, chiming watch juga menunjukkan bagaimana sebuah jam tangan dapat berubah menjadi karya seni mekanis yang hidup.
Bagi Anda yang ingin mengeksplorasi lebih jauh dunia jam tangan mewah, complication eksklusif, hingga koleksi haute horlogerie dari berbagai maison ternama, kunjungi Flecto dan temukan berbagai insight horologi premium lainnya.